Tentang Nunggu Giliran

10:39 PM


Pernahkah merasakan dateng sepagi dan secepat mungkin untuk konsultasi ke dokter terus dibilang "sama kamu bakal lama. Kamu terakhiran ya". Well, saya pernah. Tapi bukannya mau cerita pengalaman tentang nunggu dokter yang lama sambil gemeteran karena AC-nya dingin banget, Saya mau cerita tentang sesuatu yang terselip dari kejadian tadi. Mau secepat dan sepagi apa, kalau belum giliran saya, dan dokter belum mengizinkan, saya ga akan bisa masuk ke ruang konsultasi.


Sebuah pemikiran muncul secara tiba-tiba pas saya lagi beres-beres mau pulang dari kantor. Sebenernya adakah orang yang benar-bener 'The First One'? yang menjadi pertama kali dalam segala hal?
Engineer yang buat Smartphone di pariknya mungkin jadi yang pertama kali coba atau sekedar menyentuh Smartphone tadi. Atau chef handal yang buat sushi paling enak di Jepang, tentu dialah yang pertama kali mencobanya kan. Tapi untuk ruang lingkup per-sushi-an, tentu chef itu bukan yang pertama yang nyobain Sushi. Dia memang yang pertama nyobain Sushinya, tapi bukan nyobain Sushi pertama kali di dunia ini in General. 

Sebagai muslim, saya percaya bahwa Nabi Adam AS dan Siti Hawa adalah manusia pertama di bumi ini. Dan tentu dialah yang harusnya kita sematkan 'The First One'. Yang pertama kali merasa kehilangan. Yang pertama kali menghirup udara di Bumi ini, yang pertama kali makan dan minum di dunia. Jika ia pernah merasa kecewa, maka ialah yang pertama kali di dunia ini yang merasakannya. Jika ia merasa bersyukur bisa bertemu dengan Siti Hawa, maka dialah dan Siti Hawa yang pertama kali merasakan rasa bahagia di dunia ini. Wallahualam.

Lantas, kenapa kita (saya sih sebenernya) kadang-kadang merasa 'ketinggalan' padahal in fact, I AM. saya udah ketinggalan dibanding orang lain since the beginnning. Saya ketinggalan dari Ibu saya yang sudah duluan ngerasain enaknya susu Bear Brand. Atau saya ketinggalan dari Ayah saya ngerasain serunya kemah pramuka. Atau saya ketinggalan dari kakak saya ngerasain bahagianya jadi anak Ibuk dan Ayah. Too late to feel 

Bayangkan jika di dunia ini semua terjadi seabrek-abrek langsung detik itu juga. Then where's the process? Jika sehabis saya baru kenal sama seseorang eh langsung dipersunting saat itu juga. Lah dimana kenal-kenalannya ya hahaha. We need process, dan proses itulah yang membuat waktu kita dan orang lain berbeda.

Mungkin hari ini dia yang dapat giliran sakit flu, besok-besok giliran saya pasti tiba. Hari ini teman saya merasa sukses karena berhasil dapet flash sale, besok-besok juga akan tiba giliran sayang yang dapet flash salenya. Mungkin hari ini dia merasa sukses, besok-besok saya juga akan sukses. Mungkin hari ini dia berhasil jualan Kopi Latte sampe Sold Out, besok-besok giliran saya yang bisa jual kopi sampe sold out, serentak di 50 cabang secara bersamaan lagi! amiin.
Jika hari ini saya pergi menjenguk teman saya yang melahirkan, siapa tahu, besok-besok akan tiba giliran saya yang dijenguk oleh teman-teman saya. 

Lalu kenapa kita masih khawatir? Lalu kenapa kita merasa kecil hati dengan kesuksesan orang lain. Iri dengan kesempatan orang lain. Iri dengan 'waktunya' orang lain. You don't have to! Giliranmu cuma belum saatnya aja kok.

Kebanyakan dari kita, termasuk saya, masih perlu banyak belajar lagi dan percaya bahwa semua ini punya nomor antrinya. Walau nomor antrinya panjang banget kayak nomor antri buat naik haji, atau nomor antri Ikkudo Ichi di Kokas.

Salam hangat.

You Might Also Like

1 comments

feel free for coment here :)

Subscribe