Opini : Males Nonton Sinetron

1:15 PM

Siang ini saat saya lagi berkelana ke Kompasiana untuk membaca artikel tentang kabinet Jokowi-JK, saya ketemu artikel ini : 



 Yang Tak Akan Ada di Ganteng Ganteng Serigala

DITAYANGKAN setiap hari dengan ramuan itu-itu saja, Ganteng-Ganteng Serigala (GGS) malah semakin punya rating bagus di jam primetime. Dari sisi kreatif tayangan ini bahkan tidak bagus. Selain menyadur cerita Twilight tentang vampir yang terlibat asmara dengan manusia, yang paling memprihatinkan dari sinetron ini adalah adegan komedi dan asmara yang overload. Sangat risih saat menyaksikan pasangan pemeran utamanya tampil satu scene dan bertatapan, berdekat-dekatan seakan-akan hendak saling berciuman. Apa kabarnya jika yang menyaksikan tayangan itu anak-anak kecil?
GGS masih diminati remaja, terutama yang datangnya dari kalangan menengah. Sementara banyak pula remaja/pelajar yang membenci tayangan GGS ini karena satu dan lain hal. Beberapa di antaranya adalah minimnya aktifitas sekolah pada umumnya. Bukankah setting GGS adalah di sekolah?  Tapi mengapa adegan yang tercipta melulu soal itu-itu saja?
Inilah beberapa hal yang tak akan pernah kamu temukan dalam sinetron GGS:
1. Interaksi dalam Kelas
Entah sekolah macam apa yang mengharuskan muridnya memakai ‘jas kebesaran’ warna hitam seperti itu. Lengkap dengan gedung alakadarnya yang kurang mencerminkan ekslusifitas. Dalam GGS sangat jarang menemukan karakternya berdialog atau berinteraksi dalam ruangan kelas. Bahkan interaksi antarguru dan murid. Setidaknya adegan mengacungkan tangan saat jam pelajaran. Barangkali untuk menunjukkan bahwa tokoh utama perempuan gadis yang cakap dan pintar. Tapi jadinya? Tokoh utama Sissy ini jago soal asmara. Bisanya manja, manyun, cengeng, sok imut, sok lucu. Mana adegan prestasi beliau-beliau ini mas bro?!
2. Adegan Upacara Bendera
Dalam GGS, mereka-mereka ini anak-anak SMA kan? Otomatis akan ada aktifitas upacara bendera. Tim kreatif bisa membuat adegan tersebut agar suasana sekolah lebih terasa? Tapi demi nilai praktis dan asal jadi, adegan selalu dibuat di tempat yang itu-itu saja.
3. Dialog diskusi tentang Pelajaran
Di GGS tokoh utamanya seperti buta akan pelajaran. Kita bahkan tidak tahu mereka kelas berapa, mereka jurusan apa. Apakah IPA, IPS, atau bahasa? Atau jangan-jangan mereka nggak pernah masuk kelas tiap hari? Bisanya nongkrong di jam istirahat dan ngobrol-ngobrol soal cinta? Dalam GGS, sangat jarang bahkan tak pernah mereka diskusi soal pembuatan tugas makalah misalnya, tugas drama bahasa Indonesia misalnya, bahkan sekadar masuk perpustakaan dan masuk lab Kimia. Mereka berpakaian itu-itu saja tiap hari dan membicarakan roman picisan yang membuat mereka sok dewasa dan ganjen.
4. Mana Dialog Bahasa Inggrisnya? Katanya Sekolah Internasional?
Saya baru buka wikipedia dan di sana disebut bahwa sekolah tempat Digo dan Sissybersekolah adalah international school. Namun pernahkah kita mendengar mereka dialog bahasa Inggris barang di kelas atau di luar jam pelajaran? Mengingat di sekolah beginian atau di sekolah umum biasa, kerap kali ada English Day, atau hari dimana anak-anak wajib sebisa mungkin berinteraksi dengan menggunakan bahasa Inggris. Yeah, meski tidak semua SMA melakukannya, tapi untuk ukuran international School, agak aneh karena Digo dan Sissy tak pernah sekalipun dialog bahasa Inggris. Atau setidaknya tokoh-tokoh ekstras lain. Menyeramkan, bukan?
5. Mana Adegan Ekskulnya, Mas Bro?!
Dunia SMA identik dengan kegiatan ekstrakulikuler. Tapi saya mau tanya sama GGS lovers, ekskulnya si Sissy sama Digo itu apa? PMR, Pramuka? Basket? Futsal? Ataukah international School yang dimaksud setara perkuliahan diploma? Kalau gitu mana UKM-nya? Unit Kegiatan Mahasiswa-nya? Di sinilah adanya pembiaran dari tim kreator. Berpikir kalau bumbu-bumbu yang bisa jadi penguat dan pemanis itu ditiadakan.
*
Memang beginilah sisi-sisi sedih dunia pesinetronan genre sinetron kejar tayang kita. Tidak setiap hal memang tidak perlu diceritakan.  Karena memang bukan itu fokus utama, tapi tim kreatif bisa membuat suatu adegan tampak lebih nyata dengan memasukkan unsur-unsur atau setting penguat. Agar sinetron tidak malah terkesan terjadi di awang-awang atau dunia antah berantah.
Dengan bumbu-bumbu sekolah, GGS bisa kelihatan lebih manusiawi dan khas remaja Indonesia. Simak film AADC? Selain romance khas remaja, dibalurkan juga sisi-sisi positif seperti ketertarikan terhadap sastra dan adegan-adegan pendukung lain yang sangat schoolish. Selain mengenalkan identitas diri dan memaparkan pengalaman ketertarikan terhadap lawan jenis, sisi-sisi pendidikan juga tidak ketinggalan. Namun dalam GGS sayangnya kita tidak akan pernah menemukan hal itu. Melulu adegan nonmuhrim berdua-duaan, berdekat-dekatan layaknya mereka mau kawin besok.

artikel di atas di publish oleh Samandayu, 
http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2014/09/06/yang-tak-pernah-ada-di-sinetron-ganteng-ganteng-serigala-672903.html (diakses 11.54 AM 18 Sept 2014).

Mengapa saya nggak pernah bener-bener menunggu ataupun peduli dengan sinetron lokal. Bukan karena saya tidak mendukung para senimen kancah persinetronan kita, hanya saja, come on man, menghabiskan waktu sekian jam hanya unutk menonton seorang anak SMA saling "apa lo apa lo apa lo". yang ada malah bikin sensi, ntar kalau jargon apa lo itu masuk dan kesugesti terus ke dalam diri saya, kalau lagi jalan ke mana gitu kemudian ada yang ngeliatin, bisa-bisa saya apa lo apa lo kan kemudian berantem, kemudian masuk bui, kemudian saya dibuang oleh keluarga dan kemudian saya diadopsi oleh seseorang yang ternyata adalah ibu kandung saya yang membuang saya ketika saya masih kecil.

Saya pernah baca di blog orang, bahwa penulis dan pemain sinetron itu juga tahu kalau banyak yang nggak suka sama cerita sinetron mereka, mereka tahu bahwa nun jauh di sana ada beberpa orang yang memaki-maki cerita dan sinetron mereka. Tapi, masyarakat Indonesia maunya begitu. pasti ada pro dan kontra. Lihat saja sinetron GGS yang dapet rating tinggi di jam prime time, it means, people love them. Orang-orang suka! Orang-orang nonton! itu faktanya.

Tingginya peminat sinetron tersebut jadi mengingatkan kita bahwa yang seperti inilah yang di mau oleh penonton. Karena kadang mereka yang membuat ini pasti melihat dulu kemauan konsumen. Saya yakin, kalau rata-rata masyarakat kita demen sama sinetron yang agak sains-sains-an, pasti dibuat deh sinetron yang temanya seperti itu.

Bicara soal selera, selera orang itu macam-macam. Untuk genre novel pun, saya dan teman saya juga berbeda. Ada yang hobi science-fiction, ada yang suka fantasy, ada yang suka cerita yang ada unsur detektif detektif-an, ada yang suka romance, dll. Balik ke sinetron, ga semua orang juga suka sama sinetron yang diputer di tv sekarang.

Itulah kenapa saya lebih suka nonton drama Korea/ dorama Jepang, TV Series luar, sama nonton film. Berutungnya saya karena temen-temen di kampus pada suka download, jadi stock film saya kadang sampe tumpeh-tumpeh, harddisk internal dan external sudah pada merah semua -_-

Kenapa saya lebih suka drama Korea / dorama Jepang? well, nggak semua sih, cuma beberapa, selain karena dapet gratisan, selera pribadi, teknologi yang mereka pakai juga 'kayaknya' lebih maju, cerita mereka lebih beda, Genre mereka bervariasi : Tema hacking, kedokteran, arwah-arwahan, comedy-romance, buanyak yang lain. Bukan berarti sinetron kita temanya itu-itu aja, mungkin saya aja yang ga ngikutin, jadi ga tahu banyak. Selain itu, dari segi pengambilan gambar, setting lokasi yang bervariasi, didukung pula sama OST yang mendukung drama / dorama tersebut.

Menanggapi opini masyarakat yang mengatakan bahwa seharusnya daripada memaki, lebih baik mencintai hasil produksi dalam negeri sendiri :

Jika suka silakan tonton, jika tidak, tinggalkan.

simpel ya keliatannya? saya sedapat mungkin menghindari memaki-maki karena setiap hal itu mau hasil bagus atau kurang bagus, pasti ada seklumit proses di dalamnya. Saya pernah membuat film pendek bersama rekan kelompok Multimedia. Walau ada yang bilang film nya bagus, saya pribadi mengganggap film itu nggak sesuai dengan harapan saya / kami. Tapi perjuangan dalam membuat film tersebut nggak sedikit. Jadi kalau udah buat susah-susah tapi dimaki juga, panas juga nih :p

Postingan ini adalah opini saya pribadi. Kutipan artikel juga tidak saya tambah-tambahkan. Saya hanya mau menyampaikan pesan bahwa saya adalah salah satu masyarakat yang nggak begitu suka nonton sinetron-sinetron yang ada di TV sekarang.
Harapan saya, semoga kedepannya dunia persinetronan kita makin maju ke arah yagn lebih baik.
Sinetron yang baik, yang bisa menginspirasi masyarakat dan ikut mengkapanyekan kehidupan yang lebih baik. Bayangkan jika sinetron prime time yang ratingnya nomor satu isinya menarik, memberi motivasi dan inspirasi, dikemas dengan apik, twist-nya keren, dan dapat menyentuh seluuuruh lapisan masyarakat. Siapa yang nggak mau nonton? :) Siapa tahu suatu saat sinetron kita akan sangat populer sampai ke luar negeri. Jadi tren di negara lain, sinetronnya di download orang, artis-artisnya makin terkenal. Semua pihak akan diuntungkan, kita juga pasti akan sangat bangga :D

-opini seorang penonton, Dwi.


gambar : http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00049987.html

You Might Also Like

4 comments

  1. sinetron yang tidak mendidik -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. sinetron itu ngikutin pangsa pasar mungkin, sekarang penonton hobi yang kayak begini :D

      Delete
  2. anak-anak smp jadi ikut2an kaya gitu .. disekolah dipake pacaran

    ReplyDelete
  3. ga ada kreatifitas sama sekali,,benar2tidak mendidik

    ReplyDelete

feel free for coment here :)

Subscribe